Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Oktober 2010

Sporen: Tarian Pencari Jejak Tubuh

Jakarta, 16 Oktober 2010. Ada yang menarik di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki pada pukul 20.00 malam itu. Sekelompok penari dari Negeri Kincir Angin yang tergabung dalam Leine Roebana menampilkan pertunjukan tari berjudul Sporen atau yang dalam bahasa Indonesia berarti Jejak. Leine Roebana merupakan sebuah sanggar tari yang diusung oleh dua koreografer, Andrea Liene dan Harijono Roebana yang telah berdiri sejak tahun 1990.

dok. Chrestella
Tari-tarian yang dipersembahkan oleh Leine Roebana memiliki keunikan tersendiri seperti penekanan pada unsure simetri, ritme, dan komposisi. Pilihan-pilihan musik yang mereka gunakan beragam dari mulai karya abad renaisans sampai karya konser-konser kontemporer. Setiap karya mereka ekspresif dan menantang persepsi penikmatnya.

Pada musim panas lalu, Harijono Roebana serta dua penarinya; Tim Persent dan Heather Ware bertandang ke Pulau Jawa untuk menampilkan sebuah pertunjukan bertajuk Ghost Track bersama penari-penari dari Indonesia. Hingga di musim berikutnya, pertunjukan ini mencapai skala yang lebih besar dengan menampilkan gamelan serta penari-penari dari kedua negara.

Pentas tari Sporen yang menggabungkan tari, piano serta musik string merupakan sebuah perwujudan dari tidak simetrisnya tubuh kita. Saat tubuh bagian kiri dan tubuh bagian kanan melakukan gerakan yang berbeda, masih ada satu pikiran yang mengaturnya bersama. Terpecahnya perbedaan gerak inilah yang menjadi dasar metafora 'jejak' itu sendiri, bahwa tubuh ini terpisah-pisah dan mencari jejak dari setiap fragmen yang dimilikinya.

Pada pementasan kali ini, Harijono Roebana membawa tujuh penarinya antara lain; Uri Euginio, Tim Persent, Heather Ware, Swantje Schauble, Delphine Simons, dan Erik Bos. Tidak seperti pertunjukan tari pada umumnya, jika pertunjukan tari karya anak negeri memiliki cerita di dalamnya, Leine Roebana tidak bercerita. Tidak ada awal maupun akhir, setiap penari menjadi karakternya masing-masing dan setiap gerakan melambangkan fragmen-fragmen terpisah dari tubuh itu sendiri. Misalnya ketika tubuh Tim bergerak sementara kakinya diam maka Heather dan Swantje yang akan bergerak sebagai kakinya. Setiap bagian yang mereka lakukan berujung kepada sebuah kesatuan.

dok.Chrestella
Hal lain yang tidak biasa, tidak ada hitungan dalam setiap tarian ini. Semua berjalan melalui pikiran, kebersamaan, dan kesepahaman. Jika satu penari bergerak cepat maka yang lain pun begitu, namun jika satu penari bergerak lambat penari lain harus menyesuaikan. Tentunya lambat cepat itu juga sesuai dengan alunan musik yang ada. Meskipun ada penonton yang mengeluh tidak mengerti, namun banyak pula yang memberikan apresiasi tinggi terhadap karya ini. Sporen masih akan bermain lagi di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta pada tanggal 18 Oktober nanti. Baiknya Anda jangan sampai ketinggalan!

Jumat, 01 Oktober 2010

Q! Film Festival Menuai Protes FPI

Jakarta, 1 Oktober 2010. Belum lama, berita Jakarta ramai diwarnai oleh pemberitaan mengenai kecaman kelompok agama Front Pembela Islam (FPI) terhadap sebuah festival film yakni Q! Film Festival (QFF), yang mengambil tema LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) untuk festivalnya tahun ini. Festival film ini dianggap buruk dan merusak moral bangsa Indonesia.

foto: dok. google
Pada dasarnya QFF ini dimulai pada tahun 2002 oleh beberapa wartawan lepas yang akhirnya menamakan diri mereka Q! Munity. Tema pertama QFF adalah HIV/AIDS. Sejak kemunculan pertamanya, QFF sudah menuai kecaman dari beberapa pihak terutama kelompok-kelompok Islam fanatik. Namun sebenarnya, QFF mencoba untuk membuka mata masyarakat agar peduli dengan kaum-kaum LGBT ini yang seringkali dikucilkan dalam lingkungan-lingkungan sosial.

Sandra, 20, sukarelawan QFF mengungkapkan bahwa para mahasiswa yang ikut berdemonstrasi menentang festival film ini tidak memiliki pikiran yang terbuka. QFF bukan hanya soal LGBT saja tetapi juga tentang cinta serta bagaimana melihat kehidupan dari sisi yang berbeda. Menurutnya menjadi homoseksual bukanlah suatu hal yang tabu atau dosa. Dosa atau tidak biar Tuhan yang menentukan, "FPI bukan Tuhan, jadi jangan  menghakimi," tuturnya.

Sedangkan salah seorang penonton, Christopher, 29, seorang warga negara asing mengatakan festival ini merupakan suatu kreasi yang bagus. Walaupun Indonesia tidak terlalu terbuka dengan isu homoseksual, namun festival film dibuat dengan matang dan disajikan dengan baik sekali. Tentang kecaman dari FPI, pria yang akrab disapa Chris ini mengatakan, "Hal ini merupakan satu langkah mundur bagi Indonesia. Saya membaca berita ini di website Guardian.co.uk, yang berarti dunia internasional pun tahu mengenai hal ini, dan aksi ini membuat refleksi yang buruk tentang Indonesia di mata internasional."

Sementara itu pihak QFF sendiri mengatakan melalui situs resminya bahwa festival film ini akan terus berlanjut dengan adanya perubahan jadwal pemutaran film seiring dengan adanya insiden penghentian paksa dari FPI beberapa waktu lalu. Aksi penentangan festival film ini merupakan tindakan yang kesekian kalinya oleh FPI dalam menggugat kebebasan berekspresi masyarakat. Festival film yang dipersiapkan secara apik dan menarik oleh tim Q! Munity pun bukan dihargai sebagai wujud sebuah seni malah ditentang keberadaannya. Hal ini mungkin dapat dijadikan bahan renungan bagi setiap orang bahwa keindahan sebuah karya seni tidak mengenal batas atau pun golongan tertentu.

oleh: Chrestella - 915080072