Selasa, 23 November 2010

Mataram Semakin Menarik Hati

doc.google
Kini Kota Tua Ampenan dan Taman Mayura di Mataram, Nusa Tenggara Barat akan segera ditata. Penataan ini meliputi pemugaran makam-makam bersejarah. Penataan ini dilakukan untuk menarik wisatawan melancong ke daerah tersebut.

Selain itu terdapat pembangunan objek wisata lainnya seperti taman rekreasi yang terletak di Tanjung Karang. Taman ini rencananya akan dijadikan tempat rekreasi seperti Ancol namun dalam bentuk mini.

Taman rekreasi bukanlah akhir dari proyek pariwisata di Mataram. Terdapat hutan satwa yang berada di Selagalas, Cakranegara. Hutan ini diharapkan dapat menjadi objek wisata lainnya yang menarik perhatian wisatawan. Hutan satwa ini diawali dengan penanaman berbagai jenis tanaman kayu serat buah-buahan dan lengkap dengan tmpat peristirahatan bagi para pengunjung.

Yani (20) mengatakan bahwa ia sangat mendukung program pembangunan objek pariwisata di daerah tersebut. " Bagus sih biar Mataram semakin dikenal orang, bukan hanya Bali saja." ujarnya.

Ia berpendapat bahwa sebaiknya setiap provinsi juga selalu berusaha meningkatkan objek wisatanya. Sehingga dapat menambah devisa daerah itu sendiri.

Tidak cukup sampai disitu saja, kota Mataram terlihat semakin indah dengan adanya hutan kota seperti Taman Bumi Gora di Jalan Udayana Mataram. Yuk, rame-rame kita ke Mataram!

Sumber :Kompas.com
Oleh : Lindayani (915080074)

Seni yang Terlupakan


            Seni merupakan ungkapan perasaan seseorang yang dituangkan dalam bentuk gerak, rupa, nada, syair yang mengandung unsur keindahan dan mempengaruhi perasaan orang lain. Keberadaan seni tidak dapat dipungkiri turut mewarnai kehidupan sosial di masyarakat.  

           Street art atau seni jalanan menjadi sebuah fenomena baru yang terkait dengan sesuatu yang indah tetapi juga melahirkan pro dan kontra di masyarakat. Titin misalnya, seorang ibu rumah tangga mengatakan bahwa garfiti hanya merusak keindahan kota. "Kan kotor kalau tembok dicoret - coret," demikian ungkapnya.

            Seringkali kita melihat coretan penuh warna atau gambar yang berada di sekitar halte, terowongan atau jembatan di Jakarta. Tulisan dan gambarnya bermacam-macam. Ada yang mengandung pesan dan ada pula yang terlihat seakan tanpa makna. Inilah yang disebut street art. Street art terbagi dalam dua jenis yaitu grafitti dan mural. 

             Grafitti adalah seni lukis di atas dinding atau media lain dengan menggunakan cat semprot. Biasanya graffiti lebih menekankan pada seni tulisan atau huruf. Sedangkan mural ialah seni lukis di atas dinding atau media lain dengan menggunakan cat tembok. Berbeda dengan graffiti, mural lebih menekankan unsur gambar. Namun tidak dipungkiri, kedua unsur yakni gambar dan tulisan terdapat dalam graffiti dan mural.

            Graffiti dan mural bagi sebagian orang merupakan suatu seni memperindah kota dan sebagai sarana untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat. Dilain pihak, mungkin masih ada yang berpendapat bahwa street art merupakan suatu tindakan pemberontakan atau vandalisme. Namun seiring berjalannya waktu keberadaan street art mulai diakui di Indonesia walaupun belum seperti di negara-negara barat. Kini, sudah ada komunitas-komunitas graffiti dan mural yang ada di Indonesia. 

          Selain itu beberapa provider kartu SIM (SIM card) tengah bekerja sama dengan pembuat mural atau graffiti sebagai suatu ajang promosi produk kepada masyarakat. Terselenggaranya Urban Festival di Pasar Seni Ancol pada tanggal 20 November 2010 menjadi bukti, graffiti dan mural tengah mendapat tempat di jantung hati ibu kota ini.  

-Lindayani-
915080074

Rabu, 17 November 2010

Derita TKW-TKW Indonesia

doc. google
Penyiksaan TKW asal Indonesia yang bekerja di Arab Saudi sudah sering terungkap dan terekspos ke media. Tak jarang pemerintah menangani langsung pelanggaran HAM ini, mulai dari bantuan pengobatan terhadap korban hingga melakukan upaya komunikasi dan perundingan terhadap pemerintah Arab Saudi sendiri mengenai tindakan warganya yang tidak manusiawi. Tapi mengapa penyiksaan itu masih berlangsung hingga sekarang? Adakah yang salah dengan diplomasi Indonesia terhadap Arab Saudi hingga terkesan Indonesia nurut-nurut saja dengan perlakuan semacam itu.

Kini korbannya adalah Sumiati, TKW di Arab Saudi. Sumiati sering mendapat perlakuan kasar hingga menderita banyak luka parah di sekujur tubuhnya. Tubuhnya mengalami luka bakar di beberapa titik. Kedua kakinya nyaris lumpuh, kulit tubuh dan kepalanya terkelupas, jari tengah retak, hingga alis matanya rusak. Dan yang paling mengenaskan adalah bibir bagian atasnya digunting oleh sang majikan.
Kisah menyedihkan serupa juga dialami pahlawan devisa asal Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Mereka adalah Selvi binti Said dan Nani Asa binti Sahabudin. Dua TKI yang kerja di Arab Saudi balik dengan kondisi kaki lumpuh dan tubuh mengering akibat kelelahan.

Dengan pemberitaan semacam ini, tentu menimbulkan perasaan marah dan jengkel bagi sesama warga Indonesia. Seperti yang diungkapkan Christian Sondjaja (18),  yang mengaku tak habis fikir dan tak tega melihat pemberitaan yang beredar tentang Sumiati setelah disiksa oleh majikannya, ”Istilah kata jadi orang kejam amat. Kalau pembantu punya salah jangan sampai siksa seperti itu, langsung pecat aja, omelin.”

Serupa dengan itu, Rachmi Tri Utami (21) juga menyatakan pandangannya atas hal ini, ”Ya sebagai perempuan dan bangsa indonesia emosi lah. Saya rasa UU untuk melindungi mereka kurang. Mungkin tenaga kerja yg dikirim juga kurang terlatih sepenuhnya, jadi ya memancing emosi tuan mereka di sana. Indonesia harus tegas ngurusin UU buat perlindungan tenaga kerja. Dan untuk kementrian tenaga kerja sendiri harus benar-benar bisa seleksi TKI yg bakal dikirim keluar.”

Dalam perkembangannya, kasus ini telah sampai ke telinga Presiden. Presiden meminta agar tim diplomasi Kementerian Luar Negeri memberikan bantuan total kepada TKW tersebut. Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi pun diminta menangani setiap permasalahan tenaga kerja di luar negeri secara cepat dan tepat. Tentu diharapkan kejadian serupa tidak akan terulang kembali. Jangan sampai ada Sumiati Sumiati lain yang menjadi korban.

oleh : Florensia Ranny-915080077

sumber:



Arti Pentingnya Sebuah Loyalitas

doc. google
Dunia yang semakin berkembang dari tahun ke tahun, dari zaman ke zaman sedikit banyaknya telah mempengaruhi pola pikir masyarakat pada umumnya. Tingkat kejahatan yang makin meningkat, pengangguran di mana-mana, kemiskinan dan kelaparan pun terus melonjak tiap harinya. Jika dulu, negeri ini hidup dengan sejahtera dan aman tapi sekarang semuanya berbanding terbalik.

Adanya keinginan untuk memperoleh kekuasaan dan kekayaan menjadi salah satu penyebab runtuhnya rasa kepercayaan dan aman kepada negeri ini. Kasus Gayus Tambunan yang ramai selama sepekan ini mencerminkan seberapa tinggi kesetiaan yang dimiliki oleh para aparta penega hukum. Namun, tidak hanya berhenti di situ saja, di berbagai tempat pun tak terkecuali media massa sekarang dikuasai oleh orang-orang yang hanya mencari keuntungan semata dan demi kepentingan diri sendiri.

Farris, 28, pekerja di salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta menuturkan bahwa untuk dapat bertahan hidup di zaman sekarang berbagai cara apapun sepertinya dihalalkan dan dilakukan oleh semua orang, dan tidak jarang sampai harus mengkambing hitam kan orang terdekat. "Jilat atas, injak bawah, kiri kanan bersenggolan itu adalah hal yang lumrah, apalagi untuk situasi saat ini, di mana kehidupan makin sulit. Gaji tidak seberapa tapi kebutuhan meningkat tajam ," keluhnya.

Menyedihkan memang jika hal itu terus terjadi dan mungkin tidak mungkin akan membudaya dalam negeri ini. Loyalitas atau kesetiaan seseorang pada pekerjaan yang dijalaninya adalah kunci bagaimana cara-cara yag tidak halal tersebut dapat dihilangkan. Hubungan yang baik dan adanya sosialisasi anatar bawahan dan atasan serta sanksi yang berat bisa menjadi cara mengatasi masalah tersebut.

"Menciptakan hubungan itu yang paling penting. Pada dasarnya semua manusia butuh kehidupan yang layak, jika hal itu sudah terpenuhi maka tidak mungkin terjadi penyelewengan tugas. Sayangnya, kondisi saat ini menyebabkan banyak perubahan hal yang tadinya baik menjadi buruk. Hubungan yang saling mengerti dan memahami antara atasan dan bawahan akan mampu menciptakan lingkungan yang menyenangkan," jelas Mega, 30.

Sebagai bagian dai masyarakat yang hidup di zaman ini sudah merupakan tugas dan tanggung jawab bersama untuk menghentikan segala bentuk dan tindakan penyelewengan yang terus menjalar dan berkembang. Peran pemerintah, pejabat dan semua pihak yang berkaitan akan dapat membawa prubahan yang positif.

Sumber Foto : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtuyaY8Txou5LaUGhZxMcMynfVgmEUKXZvHmFlJSwPMWNF_N2bYnbsmVGZsuh05oJIpIDH2I_hmFfpA2mRyGnge5UKPMYTPOo7Df8znHILdJZeEF9x2-P81TGDA6JOYjSRt_lubaWSUCs/s400/TheBelievers.jpg

-Astrid Meiliani ( 915080057 )-

Hati-Hati Rampok Bersenjata Api


doc. google
Kejahatan ada di mana-mana. Pagi, siang, malam. Ya, tanpa mengenal tempat ataupun waktu. Akhir-akhir ini banyak penjahat yang beraksi dengan menggunakan senjata berapi. Diduga, asupan terbesar senjata berapi berasal dari Lampung.

Penjahat dengan senjata berapi umumnya menyerang para pengendara motor. Terutama di malam hari yang sepi, serta motor-motor yang menggunakan jembatan penyebrangan. Banyak pengendara motor terluka baik karena terjatuh maupun terkena tembakan senjata api tersebut.

Kasus ini semakin marak terjadi, terutama di kawasan Jakarta Barat. Para pengguna pengendaraan motor roda dua seringkali mencari jalan pintas demi menghemat waktu.

Timotheus, 20, seorang mahasiswa di kawasan Jakarta Barat menyampaikan, " Kalau banyak kejahatan gini, sebisa mungkin hindari lewat jalan kecil di malam hari, mendingan lewat jalan raya yang ramai. Hidup itu pilihan, mau memilih jalanan macet tetapi aman atau sepi tapi rawan itu terserah pribadi masing-masing."

Lain dengan Timotheus yang lebih memfokuskan sisi pengemudi, Yosua, 20, justru mengharapkan tindakan lebih dari aparat keamanan.

"Mesti ada tindakan lanjut dari kepolisian, harus lebih tanggap. Selain itu kita harus benar-benar cek kondisi kendaraan sebelum berpergian."

-Chrestella / 915080072-

Selasa, 16 November 2010

Setia Pada Apa yang Kita Yakini Baik


Rambutnya hitam legam. Pakaiannya bersahaja. Sebuah senyum senantiasa menghiasi bibirnya. Itulah Siti Nurrofiqoh. Seorang buruh yang membawa perubahan besar bagi orang – orang di sekitarnya. Keseharian Siti disibukkan oleh kegiatannya untuk melatih dan memperjuangkan hak kaum buruh melalui Serikat Buruh Bangkit yang didirikannya tahun 2006. Pertemuannya dengan Andreas Harsono, pendiri Yayasan Pantau dan jurnalis lepas menginspirasi dirinya untuk terjun ke dalam dunia tulis - menulis. Sebagai seorang ketua umum Serikat Buruh Bangkit dan penulis lepas, Siti tetap menganggap dirinya sebagai seorang buruh. Di balik ketenaran serta kesuksesannya saat ini, tersimpan cerita sedih serta perjuangannya sebagai seorang buruh. Menjadi seorang buruh bukanlah sesuatu yang diinginkan Siti, namun semua ini dilakukannya karena satu hal yang sangat dicintanya. Keluarga. 

Lahir di Magelang tahun 1973, Siti tumbuh sebagai seorang gadis yang disayang oleh keluarganya. “Saya termasuk yang beruntung. Karena dari semua anak orang tua saya, hanya dua yang disekolahkan dan saya salah satunya”, senyumnya. Budaya di desa kelahiran Siti masih sangat konservatif. Bagi mereka, wanita yang menikah sesudah lulus Sekolah Dasar adalah hal yang wajar dan bahkan wajib. Tidak dapat dielakkan, Siti harus menikah di usianya yang muda belia karena perjodohan yang disetujui oleh pihak keluarga. Salah satu alasan mengapa pernikahan ini tidak dapat ditolak oleh keluarganya adalah karena calon pengantin pria yang melamar mempunyai hubungan darah dengan Lurah setempat. Hati Siti berontak. Ia tidak mau menikah. Keinginan terbesarnya saat itu adalah melanjutkan pendidikannya.

Setibanya di Jakarta ia masuk keluar di tiga pabrik yang berbeda sebelum mendirikan usaha warung tegal (warteg) bersama dengan temannya. Alasan ia keluar, atau lebih tepat dikeluarkan adalah karena ia melakukan perlawanan terhadap manajemen pabrik. Banyak buruh di pabrik yang tidak diperlakukan dengan adil. “Buruh tidak dihargai lebih baik dari mesin. Mesin mendapat perawatan, tapi kalau orang sakit harus tetap kerja. Ini adalah penjajahan secara sistematis!”, ujarnynya penuh semangat.Selama lebih kurang 2 tahun Siti bekerja di warteg dan rumah makan Padang. Ia merasa bahwa pendapatannya tidaklah cukup. Kekurangan yang dirasakannya bukanlah karena keserakahan, namun keinginan untuk mengirimkan uang lebih untuk orang tuanya. Melalui sebuah iklan di jalanan, Siti melamar di sebuah perusahaan asing dan berhasil diterima. Lagi – lagi ia bekerja sebagai buruh. Perusahaan asing tersebut dimiliki oleh orang Korea yang ternyata adalah sebuah kasino. 

            Awalnya semua berjalan lancar. Tamu – tamunya ramah. Pekerja diperlakukan adil. Namun suatu waktu, pemilik kasino tersebut kabur begitu saja, meninggalkan lebih kurang 120.000 karyawan tanpa ada tanggung jawab. Nasib para karyawan terkatung – katung di tengah kejadian tak terduga tersebut. Pihak manajemen menjanjikan sejumlah uang kepada para buruh dan karyawan melalui hasil penjualan kasino tersebut. Namun Siti berhasil mengetahui bahwa jumlah uang hasil penjualan kasino tersebut ternyata lebih banyak dari yang dijanjikan. Mulai dari situlah, pihak manajemen kasino tersebut memusuhi Siti dan melakukan propaganda sehingga semua karyawan dan buruh juga melakukan hal yang sama.

Kejadian itu membuat Siti semakin berapi – api dalam memperjuangkan hak kaum buruh. “Lamar, setengah hari kerja, lalu dipecat. Itu sudah sering saya alami”, ujarnya dengan santai. Sejak tahun 1993, ia terus berpindah dari satu pabrik ke pabrik lain. Di kebanyakan pabrik tempat Siti melamar, ia selalu ditunjuk secara akalamasi menjadi ketua buruh. Siti selalu mengadakan perlawanan kepada pihak manajemen pabrik apabila ia melihat ada ketidakadilan terhadap kamu buruh tempat ia berkerja. Hal ini jugalah yang menyebabkan ia selalu dipecat bersama dengan teman – teman aktivisnya. “Keluar masuk pabrik sudah lebih dari 10 kali. Menghadapi kapitalisme. Mereka ingin keuntungan yang sebesar – besarnya sehingga kami, para buruh selalu diperas”, katanya.

Dalam perjuangannya, Siti pernah ditangkap dan diinterogasi. Bahkan pemberitaan dirinya muncul sebagai headline di salah satu media cetak bersama dengan 8 buruh wanita lainnya. “Ada pikiran ingin berhenti, namun ya kembali lagi aku tidak tega melihat buruh dianjing – anjingin”, ujarnya kesal. Keteguhan hati dan integritasnya mendapatkan pujian dari banyak orang. “Omongannya tegas. Orangnya berani berargumen. Mbak Fiqoh lebih dari aktivis – aktivis lain karena komitmen dan kejujurannya”, cerita Hasirin, salah seorang buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Bangkit.Apa yang menjadi kekuatannya untuk terus bertahan walaupun menderita? “ Suatu ketika aku melihat satu ruangan tempat tinggal buruh yang dijejalin oleh berpuluh – puluh orang. Dari situ aku melihat bahwa di pundak seorang buruh, berpuluh – puluh nyawa bergantung padanya. Anaknya. Orang tuanya.”, ungkap Siti.Selesai bercerita ia tersenyum ramah. “Setia pada apa yang kita kita yakini baik”, pesannya kepada para mahasiwa/i yang mewawancarainya.
 

Jumat, 12 November 2010

Siti Nurrofiqoh : Perjuangan Sang Ibu Ketua Serikat Buruh Bangkit

doc. google
Siapa sangka, dibalik tubuhnya yang terbilang kecil, tersimpan keberanian besar untuk terus memperjuangkan hak-hak buruh. Siti Nurrofiqoh, wanita kelahiran Magelang, Jawa Tengah, 10 Juli 1973 ini sampai harus keluar masuk pabrik karena pergerakan yang ia lakukan untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Sepuluh kali ia diterima di sebuah perusahaan, sepuluh kali ia melakukan pergerakan, dan sepuluh kali pula ia dikeluarkan dari perusahaan tersebut. Meski tidak lagi menjadi buruh pabrik, namun ia membuktikan pengabdiannya melalui pembentukan Serikat Buruh Bangkit (SBB) yang ia dirikan sejak Mei 2006 lalu. Hingga sekarang Fiqoh, begitu panggliannya, masih menjabat sebagai ketua umum SBB yang berpusat di Tangerang.

Dalam perjuangnnya ini, selain sering keluar masuk perusahaan, ia tak jarang bergonta-ganti keanggotaan serikat karena visi dan misi yang tidak sesuai dengan hati nurani dirinya. Lebih dari 8 serikat buruh pernah ia rasakan, dan menurutnya tidak ada satupun benar-benar memperjuangkan hak buruh sebagaimana mestinya. Berangkat dari kekecewaan dan kelelahan terhadap serikat-serikat buruh itulah, kemudian ia membentuk sendiri suatu serikat buruh yang ia namakan Serikat Buruh Bangkit (SBB) pada Mei 2006 di Tangerang. Serikat Buruh yang ia dirikan ini menangani masalah perburuhan untuk lingkup Jakarta-Tangerang.

Di bawah kepemimpinan Siti Nurrofiqoh, Serikat Buruh Bangkit melakukan berbagai usaha untuk memperjuangkan nasib dan hak-hak kaum buruh. Salah satunya adalah dengan pembinaan dan pendidikan. Melalui pendidikan diharapkan dapat membentuk mental dan keberanian dalam diri para buruh serta kecakapan di berbagai bidang agar mereka pada akhirnya bisa mengadvokasi diri mereka sendiri. Selain itu, SBB memiliki divisi pengembangan yang berguna dalam memperbaharui pengetahuan agar massa buruh tidak lagi jadi massa terpimpin, tapi bergerak karena pikirannya sendiri. Langkah investigasipun dikembangkan guna menyiapkan dan mengumpulkan data-data yang kuat untuk memantapkan langkah advokasi ke depannya.

Menjadi pejuang buruh, terlebih sebagai ketua umum suatu serikat buruh, tidaklah mudah. Banyak ancaman yang ditujukan padanya. Fiqoh menceritakan dalam melakukan demonstrasi di Depnaker untuk memperjuangkan hak-hak PHK, ia  pernah dilempari petasan dan botol bekas minuman saat ke WC. Selain itu iapun pernah ditetapkan sebagai tersangka karena perjuangannya itu, hampir dikeroyok, bahkan hingga ancaman pembunuhan. Namun Hal-hal seperti itu tidak membuat Fiqoh menjadi gentar untuk terus memperjuangkan nasib teman-teman buruhnya. Bersembunyi dari ancaman berbagai pihak dan diusir dari Depnaker adalah hal yang biasa baginya. Prinsipnya hidupnya sangat sederhana, jika ada ketidakadilan terjadi, dan selama kita masih bisa melakukan sesuatu, berbuatlah sesuai dengan kemampuan untuk membantu mereka.

Siti Nurrofiqoh adalah sosok yang sangat dikagumi oleh rekan-rekannya di SBB. Seperti yang diutarakan oleh Maryani, Bendahara SBB yang sudah bergabung sejak SBB berdiri. ”Fiqoh itu orangnya demokrat, tidak pernah membatasi anggotanya untuk belajar. Saya masuk ke Bangkit karena melihat serikat ini benar-benar memperjuangkan hak buruh, tidak seperti serikat lain yang dulu saya ikuti.” tuturnya menjelaskan sosok Fiqoh.

Di bawah pimpinan seorang Siti Nurrofiqoh, biarpun kondisi kepengurusan terbatas tetapi diakui rekan-rekannya tidak ada kesulitan yang berarti, karena semuanya dilakukan demi kepentingan bersama. Sosoknya yang selalu mengayomi dan tidak setengah-setengah dalam berbagi ilmu menjadikan anggota-anggota di dalamnya pun menjadi loyal terhadap organisasi. Terlebih lagi perjuangan-perjuangan yang terus dilakukan telah membuahkan hasil. Setiap masalah sudah bisa diatasi. Pelanggaran-pelanggaran yang terjadi sudah bisa dipertanggungjawabkan sesuai dengan undang-undang. Tentang lembur, hak cuti, dan dispensasi lainnya sudah bisa diperjuangkan walau tak jarang pemilik perusahaan tidak suka dengan SBB. ”Buatku digeret-geret polisi, ditangkap polisi pernah. Hal-hal premanisme juga pernah. Tapi ya gak masalah. Entah sampai kapan, karena soal hari ini aku selamat atau tidak tergantung dari Tuhan,” ucap Fiqoh.


Oleh : Florensia Ranny - 915080077