Rabu, 10 November 2010

Michelle Obama, Ibu Negara yang Cerdas

doc.google
Kunjungan Preiden Amerika Serikat, Barack Hussein Obama menyita perhatian sebagaian besar masyarakat Indonesia. Tak hanya Obama, istri tercintanya, Michelle Obama juga mampu menydeot perhatian publik di tanah air.

Kedatangan Obama dan Michelle pada hari Rabu, 10 November 2010 di Masjid Istiqlal menarik simpati masyarakat. Pasalnya ibu negara AS ini dinilai cerdas dalam menyesuaikan cara berbusana dengan lingkungan di mana beliau berada. Michelle Obama menggunakan blazer dan celana panjang hijau serta kerudung yang menutupi kepalanya.

Pakaian Michelle saat berkunjung ke Istiqlal, langsung menjadi topik hangat di Twitter yakni salah satu jejaring sosial. PenggunaTwitter menduga kerudung yang dikenakan Michelle berasal dari Masjid Istiqlal. Namun dugaan itu segera dibantah oleh Ali Mustafa Yaqub selaku Imam Besar Masjid Istiqlal yang mengatakan bahwa sejak Michelle turun dari mobilnya, beliau telah mengenakan kerudung yang bermotif hitam putih itu.

Obama dan Michelle berkunjung ke Istiqlal untuk melihat-lihat masjid tersebut yang merupakan masjd terbesar di Asia Tenggara. Selain itu Obama beserta istri juga ingin melihat secara langsung beduk besar yang dimiliki Istiqlal.

Ainun Noor Fitri (20)  seorang mahasiswa, mengatakan bahwa Michelle Obama merupakan sosok wanita yang menghormati agama lain. Terbukti dengan kerudung yang dikenakan saat berkunjung ke Istiqlal. "Kalau tentang para pengguna Twitter, menurut saya itu sah-sah saja jika mereka mengeluarkan dugaan seperti itu. mungkin mereka tidak tahu jika Michelle Obama menggunakan kerudung sendiri." ujarnya.

Immanuel Anugrah Sihombing (20) berpendapat bahwa kunjungan Michelle Obama yang memakai kerudung di Masjid Istqlal terlihat biasa-biasa saja. Menurutnya semua suster di Katolik juga memakai kerudung. Mahasiswa ini juga menambahkan  jikalau Michelle sendiri tidak terganggu dengan dugaan para pengguna Twitter, hal ini tidak menjadi masalah.


Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2010/11/10/13235780/Dari.Mana.Asal.Kerudung.Michelle.Obama

Oleh : Lindayani / 915080074

Selasa, 09 November 2010

Komunitas Waria

Bagaimana ketika kita mendengar kata “waria”, apa yang terlintas di pikiran kita? Menurut data yang diperoleh, sebagian besar dari masyarakat memiliki pandangan yang negatif terhadap waria dan komunitasnya. Sebagian besar tidak setuju dengan kehadiran waria dalam masyarakat karena menurut mereka bahwa Allah menciptakan manusia dalam rupa laki-laki dan perempuan, sehingga waria dianggap sebagai suatu bentuk penyimpangan terhadap Kitab Suci. Stereotip seperti itulah yang kini merambah di masyarakat. Waria juga sering dikaitkan dengan pelacuran dan prostitusi.

Memang stereotip di atas ada benarnya, sebagian besar dari kita mungkin mengira bahwa komunitas waria adalah komunitas yang bersembunyi di balik gelapnya malam dan hidup dalam kesendirian. Namun apabila kita teliti lebih mendalam, sadar atau tidak sadar, kini waria semakin eksis dlm masyarakat. Ambillah contoh dalam dunia perfilman, dimana waria sering dipertontonkan sebagai lawak ataupun hiburan bagi penonton. Bahkan bebrapa aktris diset oleh sutradara untuk berperan sebagai waria, seperti komedian Aming. Mengenai kehidupan waria, apakah benar mereka hidup dalam kesendirian dan tidak ada yang mau menerima mereka? Ternyata tidak semua waria seperti itu, bahkan ada beberapa yang beruntung dapat membangun rumah tangga bersama dengan pasangan mereka (baca artikel di halaman berikutnya). Namun tetap saja mereka (waria) mempunyai satu kekurrangan yakni mereka tidak dapat memiliki anak sacara biologis, karena walaupun mereka dapat mengoperasi kelamin dan fisiologis tubuh mereka, mereka tetap tidak dapat mengubah kenyataan bahwa mereka tidak mempunyai rahim.

Namun sangat disayangkan, kaum waria masih saja belum diterima sepenuhnya dalam masyarakat, di Indonesia, jenis kelamin waria di KTP ditulis : laki-laki, sedangkan di negara-negara lain dtulis : perempuan. Tidak hanya berhenti sampai disitu saja, banyak dari waria yang bekerja sebagai PSK (Pekerja Seks Komersial) dan survey menunjukkan sepertiga waria di Jakarta terjangkit HIV.Waria juga diidentikkan sarat dengan kekerasan dan perkelahian.


Benar adanya bahwa komunitas waria dikucilkan dan mempunyai status sosial yang rendah dalam masyarakat. Karena diskriminasi inilah, para waria bersemangat untuk memperoleh pengakuan dari pemerintah dan masyarakat, Sebagai contoh, Yulianus Rettoblaut lebih dikenal dengan sebutan Mbak Yuli merupakan seorang waria yang lolos seleksi menjadi salah satu calon komisioner Hak Asasi Manusia bersama dengan 42 peserta lainnya.Ini merupakan suatu prestasi di kalangan waria.

Tidak hanya berhenti disitu, waria semakin berusaha eksis dan memperoleh pengakuan dalam masyarakat dengan beberapa dari mereka yang mengikuti acara seperti pagelaran Seni, Budaya dan Olahraga Nusantara yang meliputi Lomba Ratu Kebaya 2007, Turnamen Bola Voli Waria se-Indonesia dan Pemilihan Putri Waria Indonesia 2007 dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Jakarta 480, Hari Anti Madat Sedunia dan HUT Kemerdekaan RI 62 yang berada dalam naungan Yayasan Putri Waria Indonesia (YPWI) yang bekerja sama dengan Forum Komunikasi Waria Indonesia (FKWI). Adanya yayasan serta acara-acara akbar yang diselenggarkan untuk waria menunjukkan adanya perhatian terhadap kaum waria.
Beberapa fakta dalam masyarakat membantah bahwa waria merupakan kaum yang jahat, tidak layak dan tidak halal. Ambil saja contoh Dorce Gamalama yang merupakan seorang artis waria yang terkenal. Sumber menyebutkan bahwa Dorce melakukan operasi kelamin untuk mengasuh anak-anak terlantar dan mengadopsi mereka sebagai seorang ibu. Peran Dorce dalam dunia pertelevisisan juga tidak sedikit, beliau membawai bebrapa acara talk show dan juga menjadi presenter dalam beberapa acara.

Terakhir,penulis mendatangi seorang waria yang merupakan seorang kenalan dan pemilik salon. Sebut saja Mbak Ani (bukan nama sebenarnya), sudah menggeluti bisnis salon selama kurang lebih 4 tahun. Sebelumnya mbak Ani bekerja di salon juga dari tahun 80-an dan kini Mbak Ani sudah memiliki usaha sendiri. Walaupun usaha salonnya termasuk yang menengah ke bawah, namun Mbak Ani tetap optimis dan bekerja keras. Keteguhan dan ketegaran hatinya yang membuat dia bertahan hingga saat ini. Hal ini juga membuktikan bahwa ternyata selain masuk dalam dunia perfilm, kaum waria juga sudah mengambil bagian dalam masyarakat yang walaupun sebagian besar masih tidak mendapat pengakuan dari masyarakat.

oleh : Rudy (915080193)

Sabtu, 06 November 2010

Indonesia Berduka

Tsunami di Mentawai, letusan Gunung Merapi dan gempa bumi di Wasior. Tak henti-hentinya Indonesia didera oleh berbagai bencana alam yang meluluh lantakan negeri ini. Kosong, hampa, bingung,kepedihan dan tangisan para korban hanya menambah luka di hati. Negara yang dulunya aman dan bahagia sekarang harus menghadapi kenyataan yang pahit.

Doc : Google
Disaat para korban sangat membutuhkan uluran tangan dari semua orang, tragis jika mendengar bahwa respon yang diberikan oleh para pemimpin negara ini acuh tak acuh dan tidak peduli sama sekali. Rasa sisi kemanusiaan itu seakan hilang ditelan oleh harta melimpah dan kesibukan yang datang. Mengatasnamakan jabatan dan tanggung jawab pekerjaan, Gubernur Sumatera Barat yang seharusnya peduli terhadap korban tsunami  malah melakukan kunjungan ke Jerman dengan dalih promosi.

Kemana rasa kepekaan mereka terhadap Indonesia? Irma, 25 tahun, karyawan swasta mengungkapkan bahwa inilah gambaran yang sedang terjadi, cerminan bagaimana seharusnya seorang pemimpin menjadi teladan bagi rakyatnya dan memberi perhatian tapi seolah-olah mengabaikannya begitu saja. "Sangat disayangkan apabila hal itu terus dibiarkan terjadi. Bagaimanapun yang menajdi korban adalah warganya sendiri dan itu merupakan tanggung jawabnya yang paling utama dibandingkan dengan perjalanan dinas ke luar negeri," jelasnya.

Janji yang dulu pernah mereka berikan kepada masyarakat ternyata palsu. Tindakan dan perkataan mereka sungguh memprihatinkan. Jelas semuanya perlu bukti yang nyata dan jelas bukan sekedar kata-kata. Negara tidakbutuh pemimpin yang baik tapi harus peka.

"Haruskah kita kembali belajar di sekolah bagaimana menumbuhkan sikap kepedulian terhadap sesama? Anak kecil sja lebih baik dibandingkan dengan mereka yang memang sudah tugasnya melindungi dan memberi perhatian terhadap masyarakat. Jika seperti itu, lama-lama masyarakat akan bertindak secara kasar dan brutal," papar Martin, 45 tahun, warga Tanjung Duren Barat.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin itu ungkapan yang pantas untuk mencerminkan kondisi para korban saat ini. Kehilangan harta benda, rumah dan sanak keluarga ditambah sikap para pemimpin yang acuh sungguh sangat ironi. Biarlah apapun yang dialami saat ini menjadi sebuah proses pembelajaran bagi semua orang.

Sumber : Gambar http://eriassumarna.blog.friendster.com/files/bola-dunia3-300x282.jpg

-Astrid Meiliani / 915080057-

Kamis, 04 November 2010

Cerita Mak' Rus...

Pagi itu, suasana jalan di depan pintu Stasiun Kota agak sepi. Tetapi, di satu sudut jalan orang-orang mengerubungi sebuah pohon. Bukan pohonnya ternyata yang menarik mereka, tetapi seorang wanita penjual getuk dan pecel gendong. Rustinah namanya.
Delapan tahun yang lalu, Rustinah hijrah dari Indramayu ke Jakarta. Ia memilih hidup dengan berjualan pecel dan getuk buatannya di daerah Kota. "Di kampung gak bisa kerja apa-apa. Kerjaannya cuma ngutang sana-sini buat makan,” begitu jawab Rustinah ketika ditanya alasan dirinya dan keluarga pindah ke Jakarta.
Pukul delapan hingga sembilan pagi ia biasa berjualan di depan stasiun, lalu jika dagangannya masih belum habis ia akan berkeliling menjajakan getuk dan pecel dari Kota hingga ke Pasar Asemka. "Mau apa, sayang?" begitulah ia kerap menyapa para pelanggannya. Sosok wanita beranak tiga ini begitu ramah dan akrab dengan para pelanggan. Satu porsi pecel lengkap dengan gorengan dijual dengan harga Rp 4000,- sedangkan seporsi getuk berisi jendil, tiwul, ketan hitam dan kue singkong ditabur parutan kelapa dan gula pasir berharga Rp 2000,- .
Mak' Rus menyiapkan pecel untuk 
salah seorang pembeli. Foto dok: Chrestella
Tidak banyak keuntungan yang ia dapat, kurang lebih Rp 30000,- per harinya. Sisa uang tersebut digunakan untuk membayar hutang belanjaan bahan-bahan dagangan. Berkeliling dari pukul sembilan hingga pukul sebelas di tengah cuaca yang begitu panas membuat Rustinah tidak jarang duduk dan menghela napas. Setelah berjualan sana-sini, Rustinah lalu pulang ke rumahnya di kawasan Kampung Kencur. Semua ia lakukan dengan berjalan kaki. 
Sesampainya dirumah, Rustinah akan beristirahat sejenak sebelum pergi berbelanja dan menyiapkan masakan untuk jualan esok hari. Pada jam 2, ia akan mulai membuat lontong untuk pecel, lontong direbus selama empat jam. Selanjutnya membuat isi getuk, mulai dari jendil, kue singkong, tiwul, dan ketan hitam. Selama menunggu getuk matang, Rustinah akan membuat sambal pecel. Biasanya Rustinah menggunakan satu kilogram kacang dan setengah kilogram cabai untuk satu kali berjualan. Sedangkan sayuran dan bakwan akan dimasaknya jam 3 subuh supaya pada pagi hari jualannya masih segar.
Berjualan dan memasak setiap hari membuatnya lelah, namun Rustinah mengatakan sudah tidak ada lagi pilihan, hanya ini yang bisa ia dan suaminya kerjakan. Kedua anak perempuannya sudah menikah, sedangkan anak ketiganya hanya sekolah hingga SD lalu bekerja dan tinggal di kawasan Mangga Dua. Dengan berjualan getuk dan pecel, Rustinah tidak sekedar mencari uang, tetapi turut melestarikan makanan khas Indonesia.

Selasa, 02 November 2010

Foto Jurnalistik

Jurnalisik adalah proses mengumpulkan, mengolah, melaporkan, dan menganalisis suatu informasi. Orang yang mempraktekkan kegiatan jurnalistik disebut jurnalis atau wartawan.Sebuah foto dikatakan memenuhi kriteria sebagai foto jurnalistik jika dari foto tersebut kita dapat menangkap cerita yang disampaikan oleh sang fotografer tentang kejadian yang tengah terjadi kala itu dengan utuh

Foto Jurnalistik dapat didefinisikan sebagai rekaman sebuah peristiwa dalam kehidupan manusia dan peradaban bangsa. Apabila kita mengamati sebagian besar koran dan majalah cetak yang ada, foto – foto yang dicetak sebagai pendamping daripada artikel atau tulisan yang ada, itulah foto jurnalistik. Bukan semua foto di media cetak dinamankan foto jurnalisitk, namun foto yang dapat menjelaskan tentang tulisan tersebut, singkatnya foto yang dapat “bercerita”mengenai kejadian atau peristiwa yang disajikan.

Foto Jurnalistik mengandung dua unsur di dalamnya seperti yang dikutip dari Dwi Slamet Santoso dalam salah satu website yang merupakan pakar dalam fotografi : “Jurnalistik dan fotografi itu sama, keduanya sama-sama ingin menyampaikan suatu berita di dalamnya,”
Jadi penulis mengambil kesimpulan bahwa ada persamaan antara jurnalisme dan fotografi yakni dalam hal penyampaian pesan. Dan apabila keduanya digabungkan akan menghasilkan sesuatu yang disebut dengan foto jurnalistik, yakni foto sebagai hasil gabungan antata teknik fotografi dan jurnalisme.

Istilah foto jurnalistik diperkenalkan oleh seorang bernama Wilson Hick. “Foto jurnalistik adalah gambar dan kata,” begitu katanya berteori. Melalui kepemimpinanya, muncul sejumlah fotografer kelas dunia seperti Robert Cappa. Pada tahun 1936 ia berhasil membuat foto dramatis seorang serdadu yang sedang roboh tertembak peluru di Spanyol. Foto yang berjudul Death of Loyalist Soldier tersebut dimuat majalah foto Perancis VU dan terbit di majalah Life .


Perkembangan foto jurnalistik di Indonesia tidak terlepas dari perjuangan para pahlawan untuk meraih kemerdekaan. Alex Mendur beserta rekan-rekannya di IPPHOS dan Abdoel Wahab, adalah pewarta visual Indonesia pertama yang digembleng pendidikan kejuruan formal Belanda dan Jepang, diasah oleh semangat kemerdekaan dan dibentuk dalam medan pertempuran.

Ketrampilan,kecekatan, wawasan,keberanian dan komitmen seperti yang dibuktikan pelopor itulah yang mestinya dihidupkan kembali oleh pewarta-pewarta foto Indonesia.

Sumber : http://citizenimages.kompas.com/forum/viewtopic.php?f=32&t=20
http://webtorial.tempointeraktif.com/foto/fotojurnalistik.html,
http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=937:foto&catid=30:gema-edisi-40&Itemid=182
http://warungpotret.multiply.com/journal/item/9/Kriteria_Penilaian_Foto_Jurnalistik
http://bs-ba.facebook.com/topic.php?uid=49109284335&topic=7874
http://www.kaskus.us/showthread.php?p=75135028
http://images.google.co.id

oleh : Rudy (915080193)

Harapan Akan Tindak Nyata Instruksi Presiden

doc. google
Penanganan pemerintah terhadap bencana di Wasior, Mentawai, dan Klaten, Yogyakarta dianggap kurang maksimal. Kurang tanggapnya langkah evakuasi menyebabkan banyaknya korban yang berjatuhan. Berkaitan dengan hal ini, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono akan menerbitkan Instruksi Presiden (inpres) tentang bencana, terutama dalam menghadapi musibah tsunami yang diharapkan dapat menekan jumlah korban dari suatu bencana.

“Tampaknya perlu kita menetapkan suatu kebijakan yang merupakan lanjutan yang ada di dalam undang-undang untuk mengurangi korban jiwa dalam bencana,utamanya bila terjadi gempa dan tsunami,” ujar Presiden SBY seperti yang tertulis dalam seputar-indonesia.com. Pemerintah akan mengatur permukiman baru bagi korban bencana, juga akan memikirkan infrastruktur pasca bencana.


Keputusan presiden ini disambut baik oleh warga Indonesia mengingat usaha positif dalam penanganan bencana. Seperti yang dikatakan oleh Marisa Yuanita Sari (20), yang memberikan respon positif terhadap inpres yang akan diterbitkan. “Menurut saya upaya yang mau dilakukan pemerintah bagus. Apalagi ada rencana langkah penambahan UU untuk mengurangi korban,” tuturnya.

Hal serupa juga dilontarkan oleh Yosef (16), “Dengan inpres ini diharapkan para pembantu presiden melakukan langkah nyata dalam menghadapi musibah bencana yang ada. Selain itu dalam penanganan bencana ini perlu diperhatikan juga pendistribusian bantuan yang harus merata. Jangan hanya daerah yang besar, tapi daerah pelosok juga perlu diperhatikan.”


Selain dukungan yang diberikan, masyarakat juga merasakan rasa skeptis terhadap inpres dalam hal penanganan bencana. "Balik lagi ke pemerintah akan benar-benar terealisir atau tidak. Biasanyanya kan cuma janji gak da bukti, " ucap Marisa.

Ya, semuanya kembali pada aksi nyata yang akan diperlihatkan oleh pemerintah dalam menangani bencana-bencana alam ke depannya. Jangan hanya pernyataan hitam di atas putih, tapi juga perlu diperhatikan tindakan real yang dilakukan karena ini berkaitan dengan nyawa manusia..

Oleh : Florensia Ranny (915080077)



Senin, 01 November 2010

Mereka Terancam!

Kakatua  jambul kuning
Burung Kakatua merupakan burung yang mudah dikenali dari ciri-ciri fisiknya yaitu paruh atasnya yang bengkok dan tipe kaki yang cukup unik dimana dua jari menghadap ke depan dan dua lagi ke belakang (zygodactyl). Selain itu burung kakatua juga memiliki jambul dan warna bulu dominan yang kurang bervariasi seperti warna putih, hitam, abu-abu atau kombinasinya.

Namun kini Indonesia mengalami kondisi kritis dimana tiga jenis kakatua yang hanya ada di Indonesia yakni kakatua putih, kakatua maluku dan kakatua tanimbar mulai terancam keberadaannya alias hampir punah. Selain itu kakatua kecil jambul kuning juga berada di tahap kritis.

Indonesia yang merupakan negara dengan kekayaan hayati paling tinggi ternyata menempati posisi teratas sebagai negara dengan jumlah jenis burung terancam punah dan dieksploitasi secara berlebihan. Burung kakatua di Indonesia seringkali dijual ke luar negeri seperti Eropa dan habitatnya seringkali disalahgunakan, yakni penggunaan hutan untuk keperluan lainnya.


Argamalona (17) berpendapat bahwa pemerintah harus senantiasa memperhatikan masalah seperti ini, jangan sampai lalai. "Terkadang pemerintah hanya urusin masalah artis atau Bank Century yang sampai sekarang gak jelas buntutnya. Lagipula orang-orang rakus banget yah sampai eksploitasi besar-besaran gitu." ujarnya.

Rizky Fitria (20) mengatakan bahwa semua ini memang tidak lepas dari peran dan pengawasan pemerintah supaya tidak terjadi perdagangan ilegal. "Selain itu para penjual juga harus sadar dan memikirkan pengembangbiakkan dari burung tersebut untuk meminimalisir terjadinya kepunahan." tambahnya.

Pusat keragaman kakatua berada di kawasan tropis Australasia yaitu Australia,Papua dan Wallacea. Dari 21 jenis kakatua di dunia, Indonesia memiliki 7 jenis dan 3 diantaranya hanya terdapat di Indonesia. Akankah kita membiarkan warisan bangsa ini punah?

Oleh : Lindayani (915080074)
Sumber : http://sains.kompas.com/read/2010/11/01/21265066/Kakatua.Terancam.Punah..-5
http://www.google.co.id/imglanding?q=burung+kakatua&hl=id&gbv=2&tbs=isch: