Rabu, 20 Oktober 2010

Sebuah Dilema Warga Total Persada

Hujan tidak lagi dianggap berkah oleh sebagian orang. Hujan yang dulunya mendatangakan penghidupan kini justru lebih dipandang sebagai momok yang menakutkan bagi warga kota-kota besar. Semakin maraknya pembangunan gedung dan perumahan baru tanpa kompensasi yang diberikan pada alam, menyebabkan sistem tata kelola air kota semakin buruk.

Perbandingan perumahan baru (depan) dengan perumahan Total Persada (belakang)
Hal ini nampaknya sangat menggambarkan keadaan Perumahan Total Persada yang berada di Kelurahan Gembor, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Banten. Lingkungan keseharian masyarakatnya sangat rentan terhadap banjir, bahkan bisa dikatakan mereka sudah sangat akrab dengan bencana yang satu ini. Tiap tahunnya wilayah ini terutama di RW 07 dan RW 08 pasti merasakan apa yang disebut “kelebihan air”. Hujan yang terjadi bukan saja menjadi penyebab satu-satunya, luapan kali Ladeg dan Cirarap yang berada disekitar perumahan Total Persada akibat kiriman air dari kota lain seperti Bogor, merupakan salah satu alasan kenapa daerah ini menjadi langganan banjir.                                   

Keadaan yang memprihatinkan ini sekarang mulai berubah. Dari penuturan warga, banjir yang menimpa perumahan Total Persada dirasakan semakin menjadi semenjak dibangunnya perumahan baru yang berada di sebelah atas perumahan Total Persada yaitu Garden City Residence. Perumahan yang dibangun oleh PT Delta Mega Sentul ini direncanakan akan mendirikan 2000 rumah baru di lahan seluas 30 hektar dengan peninggian tanah setinggi 70 cm. Saat ini sudah dibangun seratus rumah dan diperkirakan akan selesai tiga tahun mendatang.

Hartono (41), warga Total Persada yang beralamat rumah di Jalan Bogor No 18, RW07, begitu merasakan dampak negatif akibat pembangunan Garden City Residence terhadap perkembangan bencana banjir yang melanda sekitar rumahnya. “Ya, itu (pembangunan perumahan baru) bisa dijadikan alasan banjir disini, karena sebelum ada pengurukan, saya kira dengan hujan yang seperti itu banjir tidak akan separah ini. Tinggi kalipun tidak sampai segitu,” kata Hartono. Senada dengan Hartono, Sukardi (43) yang bertempat tinggal tak jauh dari rumah Hartono juga sepakat dengan penyebab banjir yang semakin parah, “Sebenarnya kemarin-kemarin agak lumayan. Ini dan itu belum dibangun. Sekarang perumahan baru dan jalanan sudah dibangun. Ya…yang menang yang tinggi, yang rendah cuma bisa diam aja.”

Atas isu yang beredar demikian pihak Garden City Residence pun angkat bicara. Manager Teknik Garden City Residence, Dik Dik Ramat Fauzi menerangkan pihak developer sendiri telah melakukan banyak antisipasi dan usaha kompensasi atas dibangunnya Garden City Residence. Pertama, sesuai rekomendasi bagian pekerja umum pemerintah kota Tangerang, maka dilakukan pelebaran Kali Wedug yang tadinya sekitar 5-7 m menjadi 15 meter. Kedua, dibuatnya danau kota Situ Bulakan yang akan menjadi tempat penampungan air jika terjadi banjir. Ketiga adalah usaha pemeliharaan sederhana Kali Cirerep, seperti membersihkan enceng gondok yang dapat menyumbat aliran air. Selain itu pihak Garden City Residence juga membangun jalan baru yang ditinggikan 70 cm, dimaksudkan agar meskipun dalam keadaan banjir, pengguna jalan tetap bisa melewati lokasi tersebut. “Intinya dengan pembangunan ini, kami berharap dapat meminimalisir banjir yang sering terjadi. Kalau sampai sama sekali bebas banjir, kami rasa sulit karena wilayah Total memang berada di bawah. Tapi paling tidak air lebih cepat dikurangi,” kata Dik Dik menuturkan pembelaan.

Entah siapa yang salah dalam penataan ruang kota ini. Kini, sebagian dari warga yang memiliki uang lebih memilih pindah, dan tak sedikit warga Total yang pindah justru memilih pindah ke perumahan baru, Garden City Residence. Memang terlihat paradoks. Di saat warga Total Persada tersudut dengan kondisi akibat pembangunan perumahan baru, sebagian dari mereka justru memilih untuk pindah ke perumahan yang diduga merupakan penyebab banjir kian parah di Perumahan Total Persada tersebut. Yang jelas, warga Total Persada masih mengharapkan perhatian pemerintah untuk melakukan suatu usaha perbaikan agar kehidupan mereka tidak selalu dibayang-bayangi oleh perasaan was-was terhadap banjir yang datangnya tidak bisa diperkirakan lagi.

Oleh : Florensia Ranny- 915080077

Simfoni Kemerdekaan

Dua bulan sudah berlalu sejak bangsa Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke – 65. Walaupun demikian, di bulan Oktober 2010 ini, semangat terhadap perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia masih tetap berkobar dan diapresiasikan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah Universitas Tarumanagara (Untar) yang mengadakan “Lomba Paduan Suara dan Karawitan Jawa Antar SMA/SMK Tingkat Nasional Tahun 2010” pada 5 Oktober 2010. Acara yang bertempat di lantai 8 Gedung M Untar ini dimulai dengan laporan dari Ketua Panitia, Ir. Ignatius Haryanto, MM serta kata sambutan oleh Rektor Untar, Dr. Monty.P.Satiadarma, MS/AT, MCP/MFCC, DCH, Psi.

Tepat pukul 11.00 WIB, seluruh peserta sudah siap dan lomba pun dimulai. Lomba Karawitan Jawa diadakan di Graha Barat Gedung M Untar, sedangkan Lomba Paduan Suara diadakan di Graha Timur Gedung M Untar. Peserta lomba yang berpartisipasi dalam Lomba Karawitan Jawa antara lain : SMAN 1 Pacitan (Jatim), SMAN 1 Jatilawang (Jateng), SMA Regina Pacis Palmerah (Jakarta), SMA Bunda Hati Kudus (Jakarta) dan SMKN 20 (Jakarta). Sedangkan untuk Lomba Paduan Suara diramaikan oleh : SMAN 1 Klaten (Jateng), SMAN 1 Bekasi (Jabar), SMAN 2 Bekasi (Jabar), SMAN 1 Pandeglang (Banten), SMK Darussalam Tangerang (Banten), SMAN 13 (Jakarta), SMA Charitas 1 (Jakarta), SMA Tarakanita 2 Pluit (Jakarta), SMA Santa Ursula dan Kanisius (Jakarta), SMA Tarsisius 1 (Jakarta), SMKN 56 (Jakarta), Sevilla International School (Jakarta) dan SMA Bunda Hati Kudus (Jakarta).

Untuk Lomba Karawitan Jawa tiap peserta harus mempersembahkan satu lagu wajib (Mars 45) dan satu lagu pilihan (bebas). “Deg – deg an banget,” ungkap Anrieke salah satu peserta Lomba Karawitan Jawa dari SMA Regina Pacis Palmerah Jakarta ketika ditanya mengenai perasaannya sebelum lomba. Siswi berusia 16 tahun ini memuji Untar sebagai tuan rumah lomba atas persiapannya. “Fasilitas sudah lengkap dan ada komunikasi yang baik antara panitia dengan peserta,” katanya. Catur Rini, guru pendamping SMAN Jatilawang Jateng berpendapat bahwa Karawitan Jawa adalah aset nasional dan ia sangat berharap agar Karawitan Jawa dapat dikembangkan sehingga menjadi komoditas wisatawan dari mancanegara yang dapat meningkatkan pendapatan nasional. Disisi lain ia memuji Untar sebagai universitas pertama yang menyelenggarakan lomba Karawitan Jawa di ibukota. “Acara yang luar biasa sekali. Saya tidak menyangka bahwa Untar begitu memperhatikan budaya Karawitan Jawa, “ungkapnya.Sedangkan untuk Lomba Paduan Suara, lagu yang diperlombakan adalah “Hari Merdeka” untuk lagu wajib dan salah satu lagu daerah untuk lagu pilihan. Agustinus Bambang Jusana, Ketua Dewan Juri Lomba Paduan Suara mengatakan bahwa lomba kali ini adalah acara yang cukup bergengsi dengan tempat yang menunjang. Michael Budiman Mulyadi selaku salah seorang juri Lomba Paduan Suara menambahkan bahwa seorang pelatih paduan suara perlu menanamkan passion kepada anggotanya mengingat situasi perkotaan yang menarik minat anak ke tempat lain dan juga kerterbatasan jumlah pelatih paduan suara SMA.

Lomba Karawitan Jawa selesai duluan sekitar pukul 13.00 WIB, sedangkan Lomba Paduan Suara baru selesai pada pukul 15.00 WIB. Rasa tegang dan cemas meliputi para peserta yang sedang berkumpul di auditorium menunggu hasil pengumuman pemenang lomba. Sebelum pengumuman Lomba Karawitan Jawa, para juri meminta semua peserta untuk naik ke atas panggung dan menyanyikan lagu wajib (Mars 45). Perpaduan suara dan gaya permainan alat musik dari sekolah – sekolah yang berbeda membentuk suatu harmoni yang indah. Setelah itu, Dewan Juri Lomba Karawitan yakni Raden Tumenggung Giono Hadi Puro, S.Kar didampingi oleh dua juri lainnya, Heru Windarto, S.Sn dan Drs. Djoko Sulistyo, M.Hum membacakan hasil lomba. Hasilnya adalah sebagai berikut :
• Juara I : SMAN I Pacitan (Jatim)
• Juara II : SMAN Jatilawang (Jateng)
• Juara III : SMA Bunda Hati Kudus (Jakarta)
• Harapan I : SMA Regina Pacis Palmerah (Jakarta)
• Harapan II : SMKN 20


Sebelum membacakan hasilnya, panitia meminta agar sekolah – sekolah peserta mengirimkan perwakilan untuk maju ke atas panggung dan menyanyikan lagu wajib (Hari Merdeka) bersama – sama. Paduan suara gabungan ini dikonduktori oleh Agustinus Bambang Jusana sendiri selaku pencipta aransemennya.
Gemuruh para hadirin memenuhi seluruh ruangan. Siswa/i dari sekolah dan latar belakang yang berbeda dapat menyatukan suara mereka dalam satu lagu “Hari Merdeka” menjadi simfoni indah yang tak akan terlupakan bagi mereka yang mendengarnya. Decak kagum hadirin masih terngiang sementara para juri mulai naik ke atas panggung untuk mengumumkan hasil lomba. Hasil Lomba Paduan Suara adalah :
• Juara I : SMAN I Klaten (Jateng)
• Juara II : SMA Santa Ursula dan Kanisius (Jakarta)
• Juara III : SMA Tarsisius I (Jakarta)
• Harapan I : SMA Tarakanita 2 Pluit (Jakarta)
• Harapan II : SMAN 13 (Jakarta)
• Penghargaan khusus kondektur terbaik : SMA Tarsisius I (Jakarta)

Para juri menyatakan kebanggaan dan antusias mereka dalam lomba kali ini serta berharap agar para peserta terus mengembangkan bakat dan talenta mereka. Acara berakhir pada pukul 16.00 WIB. Perasaan haru dan bangga terukir pada setiap wajah peserta, terutama pemenang lomba. Mereka tidak akan pernah lupa dengan pengalaman ini, berdiri diatas panggung lomba tingkat nasional dan mengumandangkan lagu “Hari Merdeka”. Lagu yang pernah dinyanyikan bangsa Indonesia 65 tahun yang lalu ketika bebas dari penjajah. Jayalah negriku, sejahterahlah bangsaku. Merdeka!

laporan oleh : Rudy (915080193)

Selasa, 19 Oktober 2010

2.000 Orang Berteriak Kepada SBY

Unjuk rasa di bundaran HI
Rabu, 20 Oktober 2010 adalah hari dimana pemerintahan SBY di Indonesia telah genap berumur satu tahun. Momentum ini dikabarkan akan diwarnai dengan aksi unjuk rasa oleh 2000 orang yang  memenuhi sejumlah tempat di ibukota. Tempat-tempat tersebut diantaranya ialah depan gedung MPR DPR, depan Istana Negara, depan Kantor Kementrian Tenaga Kerja dan Bundaran Hotel Indonesia.


Untuk menaga ketertiban keamanan dan lalu lintas, sejumlah rencana dan antisipasi telah dipikirkan untuk menghadapi kekacauan yang ,ungkin terjadi esok hari. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar, Boy Rafli Amar menghimbau agar para demonstran bisa menaatai peraturan dan undang-undang yaitu menjaga keamanan dan menghargai hak orang lain selama melakukan unjuk rasa.


Albert Novian (26) berpendapat bahwa para pengunjuk rasa sebaiknya melihat hal positif dari kinerja SBY selama ini, walaupun masih banyak kekurangan, namun kinerja SBY pasti memiliki nilai tambah. " Sby 'kan bukan dewa yang bisa ngatasin ini itu dengan cepat. Segala sesuatu perlu proses untuk mencapai keadaan yang lebih baik lagi." ujarnya.


Selain itu ia berpendapat pula bahwa kegiatan unjuk rasa ini berpotensi menimbulkan kemacetan walaupun tanpa adanya aksi ini kota Jakarta memang selalu mengalami kemacetan. "Sebenarnya yang harus diperhatikan ialah provokator yang mungkin timbul dalam aksi itu, bisa-bisa timbul bentrok dan kekacauan." tambah Albert seorang asisten dokter di Kudus ini.


Peggy Loman (24) berpendapat bahwa SBY sebagai kepala negara hendaknya diberi dukungan dan semangat dalam menghadapi tugas-tugas yang begitu banyak dan berat. "Kalau dilihat dari segi masyarakat, kita terpaksa besok harus hati-hati, takut kemana-mana kalau-kalau terjadi kerusuhan. Menggangu rasa aman banget." ujarnya.


Peggy juga mengatakan selama unjuk rasa itu bertujuan baik dan benar, caranya baik dan dapat menawarkan solusi untuk pemerintahan yang lebih baik lagi, aksi unjuk rasa ini sah-sah saja. " Jadi sebaiknya pendemo jangan asal protes saja tanpa adanya usaha untuk memberi solusi kepada pemerintah, mereka gak pikir apa yah jadi presiden itu susah?" tambah Peggy seorang asisten dokter di Jakarta.


Oleh : Lindayani 915080074
Sumber :http://megapolitan.kompas.com/read/2010/10/19/12552399/2.000.Orang.Akan.Unjuk.Rasa-8



Minggu, 17 Oktober 2010

Sporen: Tarian Pencari Jejak Tubuh

Jakarta, 16 Oktober 2010. Ada yang menarik di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki pada pukul 20.00 malam itu. Sekelompok penari dari Negeri Kincir Angin yang tergabung dalam Leine Roebana menampilkan pertunjukan tari berjudul Sporen atau yang dalam bahasa Indonesia berarti Jejak. Leine Roebana merupakan sebuah sanggar tari yang diusung oleh dua koreografer, Andrea Liene dan Harijono Roebana yang telah berdiri sejak tahun 1990.

dok. Chrestella
Tari-tarian yang dipersembahkan oleh Leine Roebana memiliki keunikan tersendiri seperti penekanan pada unsure simetri, ritme, dan komposisi. Pilihan-pilihan musik yang mereka gunakan beragam dari mulai karya abad renaisans sampai karya konser-konser kontemporer. Setiap karya mereka ekspresif dan menantang persepsi penikmatnya.

Pada musim panas lalu, Harijono Roebana serta dua penarinya; Tim Persent dan Heather Ware bertandang ke Pulau Jawa untuk menampilkan sebuah pertunjukan bertajuk Ghost Track bersama penari-penari dari Indonesia. Hingga di musim berikutnya, pertunjukan ini mencapai skala yang lebih besar dengan menampilkan gamelan serta penari-penari dari kedua negara.

Pentas tari Sporen yang menggabungkan tari, piano serta musik string merupakan sebuah perwujudan dari tidak simetrisnya tubuh kita. Saat tubuh bagian kiri dan tubuh bagian kanan melakukan gerakan yang berbeda, masih ada satu pikiran yang mengaturnya bersama. Terpecahnya perbedaan gerak inilah yang menjadi dasar metafora 'jejak' itu sendiri, bahwa tubuh ini terpisah-pisah dan mencari jejak dari setiap fragmen yang dimilikinya.

Pada pementasan kali ini, Harijono Roebana membawa tujuh penarinya antara lain; Uri Euginio, Tim Persent, Heather Ware, Swantje Schauble, Delphine Simons, dan Erik Bos. Tidak seperti pertunjukan tari pada umumnya, jika pertunjukan tari karya anak negeri memiliki cerita di dalamnya, Leine Roebana tidak bercerita. Tidak ada awal maupun akhir, setiap penari menjadi karakternya masing-masing dan setiap gerakan melambangkan fragmen-fragmen terpisah dari tubuh itu sendiri. Misalnya ketika tubuh Tim bergerak sementara kakinya diam maka Heather dan Swantje yang akan bergerak sebagai kakinya. Setiap bagian yang mereka lakukan berujung kepada sebuah kesatuan.

dok.Chrestella
Hal lain yang tidak biasa, tidak ada hitungan dalam setiap tarian ini. Semua berjalan melalui pikiran, kebersamaan, dan kesepahaman. Jika satu penari bergerak cepat maka yang lain pun begitu, namun jika satu penari bergerak lambat penari lain harus menyesuaikan. Tentunya lambat cepat itu juga sesuai dengan alunan musik yang ada. Meskipun ada penonton yang mengeluh tidak mengerti, namun banyak pula yang memberikan apresiasi tinggi terhadap karya ini. Sporen masih akan bermain lagi di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta pada tanggal 18 Oktober nanti. Baiknya Anda jangan sampai ketinggalan!

Sabtu, 16 Oktober 2010

Jangan Sepelekan Penyakit

"Cuacanya tidak bersahabat, kadang turun hujan kadang panas sampai malas keluar rumah. Apalagi kalau badannya nggak fit pasti langsung kena penyakit seperti flu dan batuk. Makanya saya jaga betul anak saya," jelas ibu Kasih saat menanggapi cuaca buruk akhir-akhir ini. Sebagai seorang ibu, tentunya ia berharap anaknya yang masih berusia 10 tahun tidak terserang penyakit karena sekarang biaya pengobatan bisa dibilang sangat besar.

Cuci tangan banyak manfaatnya
Musim hujan yang terjadi saat ini memang dapat dikatakan lebih besar daripada tahun sebelumnya. Banyaknya bencana yang datang silih berganti menimbulkan kedukaan dimana-mana. Salah satunya akibat hujan yang turun terus menerus menyebabkan banjir hampir seluruh kawasan di Jakarta. Hujan yang tidak berhenti juga membuat orang-orang terkurung di dalam rumah karena dinginnya udara yang datang menerpa. Selain itu, mudahnya terserang penyakit merupakan hal yang paling sering terjadi.

Badan yang lemas dan tidak bertenaga serta sulit berkonsentrasi dapat menyebabkan terganggunya aktivitas sehari-hari. Umumnya di saat musim hujan datang akan muncul penyakit flu dan batuk yang dengan  mudah menyerang anak-anak.Namun, orang dewasa pun juga bisa terkena penyakit jika tidak menjaga kondisi badannya dengannya baik dan memilih makananyang bergisi serta tidak lupa minum vitamin.

Berkaitan hal itulah pada tanggal 15 Oktober 2010 yang merupakan puncak hari Cuci Tangan Pakai Sabun (HCTPS) Sedunia mengajak anak-anak untuk mencuci tangan mereka secara serentak. Dalam pernyataannya di harian Seputar Indonesia, leo mengatakan bahwa program itu memberikan konstribusi nyata untuk mengurangi penyakit. Melalui tindakan yang sederhana akan berdamapak luar biasa bagi bangsa ini. "Pada akhirnya budaya cuci tangan akan turut mendukung perwujudan Indoneisa yang sehat," harapnya.

"Ada kegiatan semacam itu pastinya bagus sekali dan sangat bermanfaat. Setidaknya menjaga anak-anak terhindar dari penyakit. Saya baru pertama kali mendengar hal tersebut dan pasti saya akan mendukung," papar Yanti (21) mahasiswi kedokteran menanggapi program tersebut. Sebagai calon dokter, tentunya ia berharap kelak kegiatan seperti itu sering diadakan karena penyakit tdak hanya datang waktu musim hujan saja.

Tubuh yang sehat tentu membantu kita saat beraktivitas. Ketika musim yang tidak menentu datang maka baiknya seimbangkan pola hidup sehat dengan makanan yang dikonsumsi tiap harinya. Jika mulai terasa tidak enak badan, segera periksalan diri ke dokter sebelum bertambah parah nantinya.

Sumber : Seputar Indonesia tanggal 16 Oktober 2010

Gambar : http://setengahbaya.info/wp-content/uploads/2010/07/Akibat-Tidak-Cuci-Tangan-Setelah-Mengunakan-Kamar-Mandi.jpg


- ASTRID MEILIANI ( 915080057 ) -

Jumat, 15 Oktober 2010

Lantunan Melodi Folkfore

A.Bambang. Jusana (kiri) dan Rudy (kanan)
Musik sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan lagi dalam hidup Agustinus Bambang Jusana, seorang komposer, musisi dan dirigen tanah air. Menyanyi menjadi kegiatan kesukaannya pada saat masih kecil, bahkan hingga sekarang. Kecintaannya terhadap musik, khususnya paduan suara semakin bertambah saat bergabung dengan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Bandung, tempat ia menimba ilmu.

Pria berkacamata ini mendapatkan kehormatan untuk memimpin dan membina Paduan Suara Mahasiswa Universitas Kristen Maranatha Bandung pada tahun 2001. Tidak berhenti sampai di tingkat universitas, pada tahun 2004 ia dipercayakan untuk memimpin serta membina Perbanas Institute Choir Jakarta.

Mas Bambang, demikianlah panggilan akrab untuk komposer yang telah membawa PSM UK Maranatha Bandung sebagai juara bertahan sebanyak tiga kali berturut – turut untuk kategori Mixed Choir pada “Festival Paduan Suara Institut Teknologi Bandung” pada tahun 2004, 2006 dan 2008. Pada Juli 2010 lalu, ia membawa PSM UK Maranatha Bandung menjadi pemenang juara I untuk kategori Folkfore dan Mixed Choir serta memperoleh penghargaan The Best Interpretation dalam lomba paduan suara yang sangat prestisius di Eropa yakni 47 Internationaler Chorwettbewerb Spittal di kota Spittal, Austria Ia mengkhususkan dirinya pada jenis musik daerah dan klasik yang merupakan bidang yang tergolong sulit dalam belantika dunia musik.

“Kreatif itu adalah to create. Kreativitas tidak bisa datang dengan sendirinya. Semuanya itu harus dilatih, dibiasakan dan dipikirkan.”, jawabnya ketika ditanya mengenai cara berpikir kreatif. Tentang lagu pertama yang diaransemen olehnya, ia bercerita bahwa di Bandung dulu ada sebuah kelompok sangat membutuhkan sebuah lagu daerah untuk dinyanyikan. “Masalahnya jaman dulu lagu daerah yah gitu – gitu aja. Terakhirnya saya coba untuk membuat aransemen lagu daerah dan hasilnya dipakai oleh kelompok tersebut”, tuturnya.


Ia mengaku tidaklah mudah untuk menciptakan sebuah lagu. Butuh proses yang berhari – hari bahkan berminggu – minggu. Ia tidak memungkiri bahwa pada awalnya banyak kesalahan yang terjadi. Namun hal tersebut tidak mematahkan semangatnya. “Karena suka, saya mencipta dan mencipta terus. Lagu yang saya diciptakan kemudian dibawakan orang dan itu menjadi inspirasi bagi saya untuk mencipta lebih lagi.”, jawabnya.

Hambatan sudah menjadi makanan sehari – hari bagi orang kreatif. Hal tersebut juga dialami oleh Bambang. Menghasilkan sebuah aransemen membutuhkan banyak waktu, tenaga dan pikiran. Kesalahan dalam menggubah komposisi not dan lirik lagu selalu menjadi masalah. Belum lagi perjalanan pulang pergi Jakarta – Bandung menjadikan waktu berkreasi semakin singkat. Oleh karena itu ia selalu menekankan untuk melatih dan membiasakan diri berkreasi dalam semua bidang.

Walaupun masalah tetap ada, namun Bambang termasuk orang yang cukup beruntung. Banyak orang kreatif yang mendapat kecaman ataupun ketidaksenangan atas hasil karyanya. Namun ia mengaku sampai sekarang tidak ada pihak yang menentangnya dalam menggubah lagu daerah.

Ketika ditanya tentang manfaat karyanya, pria yang biasanya bersuara lantang ini menjawab dengan tersipu malu. “ Banyak paduan suara meminta lagu folkfore yang sudah diaransemen kepada saya untuk dinyanyikan dalam perlombaan. Yah, saya bantu.”, ujarnya. Tidak dapat dipungkiri, banyak paduan suara di Jakarta maupun Bandung yang terbantu dengan karyanya. Salah satunya adalah Paduan Suara Universitas Tarumanagara (PSUT) yang memenangkan lo sebuah lomba paduan suara tingkat universitas bertaraf international “Venezia in Musica 2009” di Venesia, Itali dengan menyanyikan lagu Yamko Rambe Yamko aransemennya.

Sekarang warna musik di Indonesia semakin kaya. Bukan hanya lagu – lagu barat yang dinyanyikan. Lantunan melodi lagu daerah mulai terdengar lagi. Lagu daerah yang sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat informasi sekarang ini terasa hidup kembali. Semua bermula dari kecintaan seorang Agustinus Bambang Jusana terhadap musik tanah air.

oleh : Rudy (915080193)

Selasa, 12 Oktober 2010

Kreatif? Kere tapi Aktif!

Muda dan kreatif, mungkin hal itu yang melintas dalam pikiran ketika kita melihat sosok Yehuda Gabrielita. Sebatang rokok terselip diantara jari-jari kanannya, sehelai sapu tangan diikatkannya ke leher membentuk sebuah ikatan unik, dan masih ada yang tidak kalah unik; kacamata bulat besar yang membingkai kedua matanya.

dok.facebook
Gabriel, dua puluh empat tahun usianya. Anak pertama dari dua bersaudara ini menjejakkan kaki di Institut Kesenian Jakarta pada tahun 2004 dan lulus di tahun 2009. Pekerjaannya beraneka macam, dari penulis skenario, membuat ilustrasi musik hingga bermain pantomim.

Perjalanannya dalam dunia teater dimulai ketika Ia melihat Gedung Teater Luwes di kampusnya dan tergerak untuk bergabung dengan seni teater yang disebut-sebut orang sebagai puncak kesenian karena menggabungkan segala jenis kesenian dari seni rupa, seni tari, dan seni musik. Pengalaman pertamanya bermain pantomim berawal dari ajakan seorang teman untuk bermain pantomim dalam peluncuran film Ungu Violet.

Sedangkan dalam dunia menulis, diakui ide biasa datang dari perjalanan kehidupan sehari-hari, bahkan dari rumput-rumput liar yang tumbuh disela bebatuan. “Ide bisa datang dari mana saja, tetapi ide tidak akan datang kepada orang yang malas,” ungkapnya.

Awal kecintaannya pada menulis Ia akui berasal saat duduk di bangku SMP, kenakalannya di masa SMP membuat sang ayah kerap kali memukulinya. Hal ini memberikan tekanan pada kemampuan berbicaranya sehingga Ia sulit bicara atau gagap. Memiliki kemampuan terbatas pada bahasa lisan, Ia pun menumpahkan isi pikirannya lewat tulisan. Kini Ia aktif menulis dan menyutradarai teater Pangudi Luhur yang dinamai Pangudi Luhur School of Brave serta di beberapa sekolah lainnya. Ia juga menulis untuk Departemen Kesehatan mengenai Hari Kesehatan Nasional tanggal 30 November nanti.
Lalu, apakah kreativitas itu datang begitu saja? Tidak. “Kreatif itu kere tapi aktif,” jawabnya iseng. Bagi Gabriel, kreativitas merupakan suatu kontradiksi dari kelemahan seseorang. Misalnya semasa kecil Ia memiliki kelemahan dalam berbicara maka Ia tuangkan kreativitasnya melalui menulis, atau pendengaran seorang penderita tuna netra yang sangat tajam.

Pekerjaan demi pekerjaan yang Ia jalani pun bukan hanya membawa manfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga orang lain. Ia jadi mampu lebih menguasai dirinya dan lebih dewasa. Selain itu, Ia dapat menghibur orang lain dengan apa yang dilakukannya dan bahkan melakukan kritik-kritik sosial kepada lingkungan masyarakat baik melalui tulisan maupun aksinya dalam bermain teater.
Oleh: Chrestella 915080072